Siapa Tokoh yang Anda Anggap Paling Mampu Perbaiki Kualitas Pelayanan Publik Jika Memimpin Asahan? lihat disini!!
Sekali klik Dapet Duit? Saya Sudah Buktikan Disini!!! DAFTAR GRATIS!!

Kamis, 31 Desember 2009

Budayawan Besar Itupun Berpulang...

Pengujung tahun, 30 Desember 2009 pukul 18.40, Gus Dur berpulang. Kepergiannya meninggalkan kesan mendalam tidak hanya dikalangan petinggi negeri, tetapi juga dihati kaum nahdliyin sampai di pelosok desa. Gus Dur adalah Guru Bangsa. Ia tidak hanya seorang Presiden, tetapi juga budayawan besar, bahkan sekaligus pengamat sepak bola. Dalam balutan kontroversisl, kita banyak memetik buah pelajaran berharga darinya tentang demokrasi dan toleransi tingkat tinggi. Sebagai bentuk penghormatan kebudayaan, TarSan memasang photo kenangan bersama Gus Dur sekitar setahun yang lalu. Selamat jalan Gus, meskipun berat hati, kepergianmu kami relakan, sebab hidup hanyalah tempat persinggahan untuk mengolah rasa, asa dan karsa sebelum akhirnya menuju alam hakiki.

Baca Selanjutnya......

Jumat, 27 November 2009

Facebook Lahir dari Budaya Perlawanan..

[ Seputar Asahan:27/11/09] Tahukah Anda bahwa situs jejaring sosial facebook.com ternyata lahir dari sebuah budaya perlwanan. Seorang Mahasiswa Smester II dari Harvard University bernama Mark Zuckerberg awalnya membuat sebuah situs kontak jodoh untuk rekan-rekan kampusnya. Untuk menampilkan foto-foto pasangan di situs ini, Zuckerberg berupaya dengan segala cara mencari foto-foto rekannya dengan cara keliling ‘door-to-door’ untuk meminta foto. Terakhir ia nekad membobol akses jaringan komputer kampusnya untuk mendapatkan foto-foto tambahan. Karena kenekad-annya tersebut, situs kontak jodoh yang ia beri nama Facemash.com itupun diblokir oleh Universitas dan diikuti dengan tindakan sanksi kepada Zuckerberg dengan ancaman akan memecatnya dari kampus. Surutkah langkah Zuckerberg? Ternyata ia tidak surut melangkah!!

Zuckerberg tidak berhenti. Pada semester berikutnya, tepatnya pada tanggal 4 Februari 2004, Zuckerberg membuat sebuah situs baru bernama “The Facebook” yang beralamat http://www.thefacebook.com/. Untuk situs barunya ini, Zuckerberg berkomentar sarkas: “Menurutku upaya pihak kampus yang ingin membuat media pertukaran informasi antar civitas akademik yang butuh waktu bertahun-tahun adalah hal yang konyol. Dengan situsku ini, aku bisa mengerjakannya cuma dalam waktu seminggu saja”.

Saat pertama kali diluncurkan “The Facebook” hanya terbatas di kalangan kampus Harvard saja. Dan sungguh menakjubkan! Dalam waktu satu bulan para penggunanya sudah mencakup lebih dari setengah jumlah mahasiswa Harvard saat itu. Selanjutnya, sejumlah rekan Zuckerberg turut bergabung memperkuat tim thefacebook.com. Mereka adalah Eduardo Saverin (analis usaha), Dustin Moskovitz (programmer), Andrew McCollum (desainer grafis), dan Chris Hughes.Bulan maret 2004, thefacebook.com mulai merambah ke beberapa kampus lain di kota Boston, AS dan juga ke sejumlah kampus ternama seperti Stanford, Columbia, Yale, dan Ivy League.

Tak butuh waktu lama, situs ini telah tersebar penggunaannya di hampir semua kampus di AS dan Kanada. Bulan Juni 2004, Zuckerberg, McCollum dan Moskovitz memindahkan markas ke Palo Alto, California. Di sini mereka turut dibantu juga oleh Adam D'Angelo dan Sean Parker.Pertengahan 2004, thefacebook.com mendapat investasi pertamanya darisalah seorang pendiri PayPal, Pieter Thiel. Setelah itu berturut-turut perusaan IT besar dan kesohor melakukan investasi jutaan dollar. Sehingga kini facebook sudah merambah hampir setiap jengkal perkotaan diberbagai belahan dunia sehingga rasanya hampir tidak ada yang tidak tahu facebook.

Facebook adalah simbol dari budaya perlawanan anak muda yang sedang mencari jati diri untuk sebuah idealisme. Hal ini dapat kita rasakan dari sejarah asal mula facebook di kreasikan oleh seorang Zuckerberg. Di Indonesia, budaya perlawanan tersebut kembali menunjukkan manifestasinya ketika para facebooker ramai-ramai melakukan advokasi untuk membebaskan Prita Mulyasari maupun Bibit dan Chandra. Advokasi tersebut sebagai simbol dari bentuk perlawanan terhadap kekuasaan yang zalim.

Inilah nilai positif yang dapat kita petik dari sebuah budaya perlawanan melalui facebook. Kita perlu belajar banyak dari Zuckerberg. Kita tidak boleh diam jika menyaksikan kemungkaran di depan mata. Bangun dan lakukan perlawanan untuk menghentikan kemungkaran. Jika memiliki tenaga dan kekuasaan, lawanlah dengan tenaga dan kekuasaan. Jika tidak memiliki tenaga dan kekuasaan, lawanlah dengan perkataan. Jika tidak mampu berkata-kata, lawanlah dengan hati dan doa. Inilah sejatinya Budaya Perlawanan yang harus kita bangun bersama, untuk Asahan lebih maju pada masa akan datang, kita harus melawan kemungkaran yang ada di Asahan!!. [Tim Seputar Asahan, disarikan dari berbagai sumber, a.l http://haxims.blogspot.com/2009/11/sejarah-facebook.html]
Baca Selanjutnya......

Selasa, 24 November 2009

Budayawan Asahan Peroleh Penghargaan...

SeputarAsahan [24/11/09] Budayawan Asahan sekaligus penulis buku Legenda Kisaran Naga, R. Soetrisman Mhd. Effendi baru-baru ini memperoleh penghargaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Propinsi Sumatera Utara. Penghargaan tersebut diberikan bersamaan dengan seniman dan budayawan dari 10 kabupaten/kota di Sumut. Penyerahan penghargaan prestasi yang masih berkaitan dengan kegiatan Sumut Gema Pariwisata (Sumut GEMPAR) 2009 tersebut diserahkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Ir Hj Nurlisa Ginting MSc di Hotel Dharma Deli, Jumat (13/11).

Para seniman yang mendapat penghargaan tersebut yakni, Abdul Rahim seniman Teater dari Tebing Tinggi, Rosmaulina Pelatih Tari dari Simalungun, Hulman Siregar Seniman Ukir dari Taput, Jamaluddin Komedian dari Langkat, Amunah SPd Seni Tari dari Langkat, Irma Darmayanti Seni Tari dari Tanjung Balai, Herwinsyah Sirait Seni Teater dari Tanjung Balai, Edison Nainggolan Seni Musik dari Tobasa, P Halomoan Simanjuntak Seni Ukir dari Tobasa, Ahiruddin Pasaribu Budayawan dari Tapanuli Tengah, Abdul Rahman Sinaga Seni Rupa dari Tapanuli Tengah dan R Soetrisman, Budayawan dari Asahan. Lebih TerpacuPada penyerahan itu Nurlisa ginting menyampaikan, dengan pemberian penghargaan diharapkan para seniman bisa lebih terpacu sekaligus dapat meningkatkan prestasinya untuk terus berkarya dan menciptakan inovasi baru.

Upaya Pemerintah SUMUT ini patut diapresiasi, mengingat saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensi yang berpotensi menghaucurkan sendi-sendi ketahanan budaya, mental dan moralitas bangsa. Upaya untuk mengembangkan seni dan kebudayaan haruslah ditempatkan ke dalam kerangka untuk mengantisipasi dampak negatif dari globalisasi informasi agar bangsa ini tidak kehilangan identitas diri [Tim Seputar Asahan]































Baca Selanjutnya......

Jumat, 09 Oktober 2009

Tanahnya Sewa.. Airnya Beli..

Kisah Anak Rantau
Serba Serbi Perjalanan Perantau Asahan,
Inilah kisah sebuah ironi di negeri berjuluk jamrud khatulistiwa. Kukisahkan ke dalam satu anekdot untuk menjadi perenungan kita semua. Alkisah.... Seorang lurah menegur seorang warganya karena pada tanggal 17 Agustus 2005 baru lalu warga tersebut tidak memasang bendera di depan rumahnya. Sang Lurah berkata : "Mengapa kamu tidak pasang bendera? Apakah kamu sudah tidak cinta lagi dengan tanah air mu?" Dengan sangat enteng si warga yang kebetulan orang berdarah batak itu menjawab : "Bah, cemana pula aku mau cinta sama tanah air pak ! Sedangkan tanah saja aku sewa dan air aku beli!" Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya yang penuh tanda tanya itu Sang Lurah meninggalkan si Warga tersebut.
Baca Selanjutnya......

Selasa, 29 September 2009

Rekor Baru Itu Bernama Akbar...

[SeputarAsahan:29/09/09] Muhammad Akbar Risudin, demikian Bupati Asahan memberi nama kehormatan untuk seorang bayi terbesar di Indonesia yang lahir di Asahan pada Hari Senin 21 September 2009 lalu. Akbar lahir di Rumah Sakit Umum Kisaran secara operasi cesar dengan bobot 8,7Kg. Ia merupakan anak ke-4 dari pasangan keluarga Hasanuddin dan Ani. Keluarga yang tergolong tidak mampu ini-pun akhirnya memutuskan untuk melakukan KB permanen setelah melahirkan Akbar.

Dalam cacatan Musium Record Indonesia, Akbar merupakan bayi terbesar di Indonesia. Kelahiran Akbar ini telah pula ikut "mengangkat" nama Asahan menjadi daerah yang belakangan ini disorot media massa bahkan sampai ke dunia internasional. Uniknya, orang tua Akbar sebenarnya dalah warga Kabupaten Batubara yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Asahan. Awalnya Akbar bahkan sempat menjadi "rebutan" antara Bupati Asahan dan Batubara, meskipun akhirnya dapat "diselesaikan" secara baik oleh orang tuanya, Hasanuddin dan Ani.
Bupati Asahan tidak hanya memberikan nama kehormatan, tetapi sekaligus juga mengangkatnya menjadi anak dan berharap Akbar kelak dapat menjadi Bupati Asahan.

Kelahiran Akbar adalah simbol dari momentum bagi kebangkitan Asahan di ranah nasional dan Internasional. Momentum ini hendaknya tidak disia-siakan. Sorotan media masa terhadap kelahiran Akbar akan semakin indah dan berarti jika Asahan juga bisa menampilkan potensi "unggul' lainnya. Ada sepatu kulit dari Bunut, Dodol Tanjung Alam, Durian Rawang, Anyang Pakis dan banyak lagi potensi yang [sebenarnya] dapat dikembangkan bagi kemakmuran masyarakat Asahan.

Asahan perlu membangun/memperkuat imej sebagai daerah dengan pemerintahan yang bersih dan melayani serta masyarakatnya yang makmur. Tiga jargon ini perlu dijadikan visi pembangunan Asahan pada masa akan datang. Sudah bukan saatnya lagi kita merasa besar [hanya] di kampung sendiri. Lihat dan belajarlah dari keberhasilan kampung orang lain. Jika Pemerintah Kabupaten Jembrana Bali bisa memberikan pelayanan pendidikan gratis, kenapa Asahan tidak? Kalau pemerintah Kabupaten Sragen Jawa Tengah bisa memberikan pelayanan perijinan satu atap yang cepat murah dan ramah, Asahan pasti juga mampu. Kalau Kabupaten Solok Sumatera Barat berhasil membangun pemerintahan yang akuntabel dalam melayani masyarakat, Asahan perlu mengambilnya sebagai inspirasi untuk membangun daerah. Dan jika Kabupaten Tulungagung Jawa Timur berhasil mengembangkan ekonomi kerakyatan, Asahan perlu juga meniru! [Tim SeputarAsahan]

Baca Selanjutnya......

Sabtu, 12 September 2009

Anyang Pakis, Plecing Kangkung & Ayam Taliwang

[SeputarAsahan:11/09/2009] Bulan Agustus lalu Seputar Asahan memuat tulisan tentang "nasib" Anyang Pakis sudah "turun kelas" [hanya] menjadi makanan musiman di Asahan. Nilai khas Anyang Pakis tidak pernah digali sehingga kini terus tergilas oleh roda jaman. Padahal, dibelahan bumi indonesia timur, di Lombok, NTB kangkung dan ayam taliwang "disulap" menjadi kuliner khas bernilai tinggi yang dicari-cari oleh setiap turis lokal dan mancanegara yang datang. Pada awal September kemarin, Seputar Asahan berkesempatan melakukan perjalanan ke Lombok dan menyempatkan singgah di salah satu rumah makan khas Lombok yang menyediakan menu Plecing Kangkung dan Ayam Taliwang. Dua menu ini merupakan ikon wisata kuliner dari Lombok yang diincar setiap turis lokal dan mancanegara, termasuk Seputar Asahan :)

Konon asal-usul Ayam Taliwan adalah dari hutan di kaki gunung Tambora yang terletak di Pulau Sumbawa, NTB. Di salah satu sisi kaki Gunung Tambora ada sebuah desa bernama Desa Taliwang. Masyarakatnya memiliki kebiasaan berburu dan memelihara ayam-ayam yang mereka tangkap dari hutan. Sehingga ciri fisik Ayam Taliwang ini memang kecil namun dagung nya padat dan seratnya liat. Pada tahun 60-an, Gunung Tambora meletus, masyarakat Desa Taliwang terpaksa mengungsi di daerah yang aman. Adalah pemimpin etnis Bali yang dinggal di daerah Cakranegara, Lombok kemudian menerima dengan baik para pengungsi dari Desa Taliwang ini. Selanjutnya terjadi akulturasi dan eks warga Desa Taliwang yang mayoritas muslim mampu membaur dengan warga Cakranegara yang mayoritas hindu Bali. Kebiasaan mengolah Ayam Taliwang-pun masih diteruskan oleh eks Warga Desa Taliwang secara turun temurun. Puluhan tahun berlalu, kini Cakranegara menjadi salah satu objek wisata kuliner di Lombok, dengan menu khas andalannya Ayam Taliwan dan Plecing Kangkung. Pemerintah daerah memfasilitasi dengan baik sehingga usaha-usaha kuliner yang menyajikan menu khas ini dapat tumbuh subur di Lombok.

Ada beberapa menu Ayam Taliwang yang ditawarkan, ada ayam taliwang bumbu pedas, ekstra pedas, dan bumbu madu. Dan menyantam Ayam Taliwan memang kurang lengkap jika tidak ditemani Plecing Kangkung. Plecing Kangkung ini sebenarnya hanyalah kangkung rebus biasa ditambah tauge, kacang tanah goreng dan sambal terasi. Nah, keistimewaan Plecing Kangkung ini terletak pada jenis kangkungnya yang khas Lombok, dan cita rasa sambalnya yang pedas. Meskipun sama-sama kangkung, tetapi kangkung dari Lombok ini bisa tetap renyah walaupun sudah matang direbus. Anehnya, jika bibit kangkung dibawa keluar daerah Lombok dan ditanam, hasilnya tidak renyah seperti di daerah asalnya. Inilah yang membuat para ibu-ibu yang senang memasak, tidak sungkan-sungkan membawa kangkung mentah dari mataram dan bahan dasar sambal-nya untuk dijadikan sebagai oleh-oleh khas dari Lombok.

Bagaimana dengan Anyang Pakis di Asahan? Tampaknya mimpi Anyang Pakis naik kelas menjadi Plecing Kangkung dan Ayam Taliwang seperti di Lombok masih memerlukan proses pewacanaan [diskursus] yang panjang di Asahan. Diperlukan keinginan politik yang kuat dari pemerintah untuk menggali potensinya menjadi bagian dari kekayaan wisata kuliner di Asahan. Selain itu, masyarakat Asahan juga perlu mulai membiasakan diri berfikir dan bertindak kreatif menciptakan ikon-ikon wisata kuliner di Asahan secara swadaya, sehingga dapat mengisi kekosongan inovasi dari Pemerintah Kabupaten. Semoga tulisan ini dapat menjadi inspirasi bagi semua fihak di Asahan untuk mengambil tindakan nyata dalam menggali dan meningkatkan wisata kuliner di Asahan. [Tim Seputar Asahan]
Baca Selanjutnya......

Jumat, 04 September 2009

Sepatu Bunut Riwayatmu Kini...

[Bagian Pertama]
SeputarAsahan:08/09/2009: Lebaran sebentar lagi, anda butuh sepatu baru? Belilah produk dalam negeri asli buatan bangsa sendiri. Slogan ini mengingatkan kita akan sebuah momentum buka-bukaan sepatu oleh salah seorang calon presiden RI dalam kesempatan kampanye dialogis di sebuah stasiun televisi swasta. Sepatu buatan Cibaduyut Bandung Ia jadikan sebagai simbol kebangkitan produk bangsa sendiri dan nasionalisme konsumen Indonesia. Tetapi, kita orang Sumatera Utara tidak perlu jauh-jauh ke Bandung, di Asahan juga ada produk sepatu kulit lokal yang tidak kalah mutunya dengan produk dari Cibaduyut, bahkan beberapa pengrajin mampu membuatnya dengan kualitas manca negara. Sepatu kulit ini dahulu konon merupakan produk pabrikan buatan USA, dan setelah puluhan tahun pabrik ditutup, para pengrajin ex karyawan pabrik sepatu kulit ini secara turun temurun terus mengembangkannya sehingga kini telah menjadi bagian dari karya industri khas dari Asahan.


Adalah daerah Bunut, salah satu daerah pinggiran Kota di Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, selama ini menjadi sentra industri Sepatu Kulit berlabel "Bunut". Tentu saja ini menjadi salah satu kebanggaan kita sebagai warga Asahan, dan [harusnya] juga menjadi kebanggaan bansa Indonesia. Namun ironisnya Pemerintah Kabupaten Asahan tidak menempatkan "Sepatu Kulit dari Bunut" menjadi bagian penting untuk pengembangan potensi lokal di Asahan. Pemerintah Kabupaten Asahan tidak menjadikan industri rumahan Sepatu Kulit dari Bunut ini sebagai salah satu ikon potensi daerah dalam website Pemkab Asahan. Padahal, Malaysia misalnya, "dibela-belain" menjadikan Tari Pendet Bali dan Batik sebagai bagian dari potensi pariwisatanya, tetapi kita yang memiliki potensi lokal industri rumahan sepatu kulit dari Bunut dibiarkan hidup meranggas tanpa bantuan fasilitas yang memadai dari Pemerintah. Jangan sampai kelak Sepatu Kulit dari Bunut juga di klaim sebagai produk karya negara tetangga, dan persoalannya adalah apakah Pemerintah Kabupaten Asahan peduli dengan ancaman ini?

Ini menjadi keprihatinan Seputar Asahan, dan tentusaja [harusnya] merupakan keprihatinan kita bersama. Jika kita amati di sepanjang Jalan Sudirman, Bunut beberapa pengrajin lama yang memiliki "toko" sederhana berdinding papan [kayu], tampak seperti telah mati suri. Bahkan salah satu pengrajin yang memiliki toko keshohor di jamannya seperti misalnya "Egalite" dan "Bunut Shoes" harus menutup tokonya setengah hari karena sepinya pembeli. Pemerintah Kabupaten Asahan tampaknya tidak hanya kurang peduli, bahkan tidak cukup kreatif untuk mempromosikan potensi ini menjadi bagian dari kampanye cinta industri lokal dan pariwisata Asahan/ Tim Seputar Asahan. [bersambung]

Baca Selanjutnya......
Lihat Page Rank Blog Anda :
dipersembahkan oleh Page Rank Checker