Siapa Tokoh yang Anda Anggap Paling Mampu Perbaiki Kualitas Pelayanan Publik Jika Memimpin Asahan? lihat disini!!
Sekali klik Dapet Duit? Saya Sudah Buktikan Disini!!! DAFTAR GRATIS!!
Tampilkan postingan dengan label Kisah Anak Rantau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Anak Rantau. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Oktober 2009

Tanahnya Sewa.. Airnya Beli..

Kisah Anak Rantau
Serba Serbi Perjalanan Perantau Asahan,
Inilah kisah sebuah ironi di negeri berjuluk jamrud khatulistiwa. Kukisahkan ke dalam satu anekdot untuk menjadi perenungan kita semua. Alkisah.... Seorang lurah menegur seorang warganya karena pada tanggal 17 Agustus 2005 baru lalu warga tersebut tidak memasang bendera di depan rumahnya. Sang Lurah berkata : "Mengapa kamu tidak pasang bendera? Apakah kamu sudah tidak cinta lagi dengan tanah air mu?" Dengan sangat enteng si warga yang kebetulan orang berdarah batak itu menjawab : "Bah, cemana pula aku mau cinta sama tanah air pak ! Sedangkan tanah saja aku sewa dan air aku beli!" Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya yang penuh tanda tanya itu Sang Lurah meninggalkan si Warga tersebut.
Baca Selanjutnya......

Rabu, 02 September 2009

Kencing Rp.500 Berak Rp.1000..

Kisah Anak Rantau
Serba Serbi Perjalanan Perantau Asahan,
Suatu hari ketika aku pulang ke Kisaran dengan menggunakan jasa transportasi bis (ALS), ketika sampai di Rantau Parapat (5 jam sebelum Kota Medan) bis yang kutumpangi berhenti di salah satu rumah makan. Aku yang sejak beberapa jam yang lalu menahan buang hajat (berak), segera saja turun dan mencari toilet yang disediakan oleh Rumah Makan tersebut. Ketika memasuki ruang toilet, di depan pintu masuk tertulis "Kencing Rp. 500 Berak Rp. 1000".

Terus terang saja, uang dikantongku hanya tinggal Rp. 10.000, artinya aku hanya bisa menggunakannya untuk sekali makan (seharga 5000 - 7000) di Rumah Makan tersebut. Kalaupun aku harus membayar retribusi toilet (berak Rp. 1000), maka aku masih punya sisa uang Rp. 9.000. Ah cukuplah. Toh kampung halamanku tak jauh lagi dari Rantau Parapat (yakni Kisaran). Setelah selesai aku berak, betapa terkejutnya aku. Penjaga toilet yang sejak tadi mengawasiku meminta aku membayar Rp. 1.500.


Spontan saja aku protes. "Mas, aku kan hanya berak, kok harus seribu lima ratus ?" Kataku. orang yang ku panggil mas tadi ternyata seorang yang berdarah batak, dengan dialek batak ia menjawab : "Mas dari jawa ya ? Apa mas tidak tahu ? Di mana-mana mas, nggak di sumatera juga gak di jawa, semua orang yang berak pasti kencing. Makanya mas harus bayar seribu lima ratus!" Akupun terdiam dan terpaksa kukeluarka uang Rp. 1.500. Dalam pikiranku, aku yang bodoh atau orang batak itu yang cerdik? "Ah dasar Batak
, Banyak Taktik". Bisik hatiku kesal bercampur geli.

[catatan TarSan: Tulisan ini tidak bermaksud SARA, hanya bagian dari khasanah kekayaan budaya bertutur anak Asahan]
Baca Selanjutnya......
Lihat Page Rank Blog Anda :
dipersembahkan oleh Page Rank Checker